Home
BAB I
PENDAHULUAN
Usia paling kritis adalah sampai dengan usia anak lima tahun, dikatakan kritis karena usia tersebut merupakan suatu masa atau tahapan umur yang menentukan kualitas manusia pada usia selanjutnya. Golden Age berada pada masa paling kritis yaitu usia 0 sampai 2 tahun, karena 80% pertumbuhan otak terjadi pada masa usia emas tersebut. Disebuat sebagai Usia Emas dikarenakan jika pada usia 0 – 2 tahun tidak ada penanganan yang baik maka pada usia selanjutnya tidak bisa diperbaiki terutama pada kerusakan otak. Desmita (2006). White dalam Hurlock (1980) menjelaskan bahwa dasar-dasar yang diletakan selama 2 tahun pertama dari kehidupan merupakan dasar yang paling kritis. Menurut White, sumber kemampuan manusia ditemukan dalam masa kritis antara delapan dan delapan belas bulan. Selanjutnya, diterangkan bahwa pengalaman-pengalam anak selama rentang waktu itu lebih menentukan kemampuan dikemudian hari dari pada sebelum dan sesudahnya.
Pada tahap ini intervensi-intervensi dan upaya-upaya untuk mendukung perkembangan otak memberi dampak yang paling besar dan menentukan kehidupan anak selanjutnya. Upaya-upaya tersebut harus dilakukan tepat waktu sehingga perkembangan otak mencapai potensi yang paling optimal. Periode kritis adalah waktu yang khusus ketika perkembangan biologis anak berada pada tahap yang sangat prima untuk mengembangkan struktur syaraf dan atau keterampilan-keterampilan yang dipengaruhi oleh stimulus yang tepat.
Kekurangan stimulasi yang ekstrim akan mengakibatkan sedikitnya jalur-jalur syaraf yang tersedia untuk belajar sehingga secara intelektual anak tersebut mengalami kecacatan kognitif. Kekurangan stimulasi yang diperlukan otak anak juga berakibat mengganggu proses pertumbuhan otak anak secara alamiah. (Syarief, dkk, 2006).
BAB II
PEMBAHASAN
Stimulasi adalah suatu kegiatan merangsang kemampuan dasar Balita dan Anak Prasekolah yang dilakukan oleh lingkungan (ibu, bapak, pengasuh anak & anggota keluarga lain) untuk mengoptimalkan tumbuh kembangnya. Stimulasi dilakukan untuk merangsang 4 aspek kemampuan dasar, yaitu: Kemampuan Gerak Kasar (GK) ; Kemampuan Gerak Halus (GH) ; Kemampuan berbicara dan bahasa ; dan Kemampuan bersosialisasi dan kemandirian.
A.Perkembangan dan Stimulus untuk Motorik Halus dan Motorik Kasar
Keterampilan motorik adalah gerakan-gerakan tubuh atau bagian-bagian tubuh yang disengaja, otomatis, cepat dan akurat. Gerakan-gerakan ini merupakan rangkaian koordinasi dari beratus-ratus otot yang rumit. Keterampilan motorik ini dapat dikelompokkan menurut ukuran otot-otot dan bagian-bagian badan yang terkait, yaitu keterampilan motorik kasar (gross motor skill) dan keterampilan motorik halus (fine motor skill). Lerner & Hultsch (1983). Keterampilan Motorik Halus; meliputi otot-otot kecil yang ada diseluruh tubuh, seperti menyentuh dan memegang. Keterampilan Motorik Kasar; meliputi keterampilan otot-otot besar lengan, kaki, dan batang tubuh, seperti berlatih untuk mengikat sepatu sendiri, melompat dan berjalan. Lerner & Hultsch (1983).
Menurut dr. Radix Hadriyanto, Sp.A beberapa ciri khas tumbuh kembang anak yang normal secara umum menurut klasifikasi umurnya dapat dilihat pada table berikut :
Stimulasi gerak kasar dan halus yang dapat diberikan sesuai dengan jenjang usia antara lain:
1.Usia 0-1 tahun
Di usia 3-4 bulan kandungan, janin sudah menunjukkan gerakan tubuh pertamanya, yang semakin bertambah sejalan dengan pertambahan usia kehamilan. Gerakan kedua muncul saat bayi lahir, yaitu gerak refleks. Gerakan seperti mengisap puting susu ibu, gerak refleks tangan dan kaki, mengangkat kepala saat ditengkurapkan, dan membuka jari saat telapak tangannya disentuh, merupakan gerakan refleks yang bertujuan untuk bertahan, gerak refleks seharusnya distimulasi agar kemampuan awal si kecil terbentuk. Contohnya, bila gerak refleks tangan distimulasi dengan baik, dalam usia 2-3 bulan, bayi memiliki kemampuan menggenggam benda-benda yang berukuran besar.
Stimulasi yang bertahap dan berjenjang akan memberikan manfaat dalam kemampuan dan keterampilan menggenggam pada bayi. Bayi akan mampu menggenggam benda-benda yang lebih kecil hingga akhirnya bisa menggenggam sendok atau pensil warna.
Kemampuan kinestetik lain yang mesti dimiliki bayi usia 3-6 bulan adalah merayap dan merangkak. Kemampuan ini merupakan awal dari perkembangan bergerak maju, duduk, berdiri, dan berjalan. Orangtua bisa menempatkan bola warna-warni di depan bayi saat ia tengkurap. Warna-warni akan menarik bayi untuk mengambil dengan berusaha bergerak maju.
Setelah merangkak, anak akan belajar berjalan. Untuk berjalan, diperlukan kekuatan otot kaki, punggung, perut, keseimbangan tubuh, koordinasi mata-tangan-kaki, serta aspek mental, emosional, dan keberanian. Dengan banyaknya aspek yang terlibat dalam proses berdiri dan berjalan, jumlah sel otak yang terstimulasi pun bertambah banyak. Saat belajar berjalan, anak mencoba merambat dan berdiri sambil berpegangan benda-benda yang kuat
2.Usia 1-2 tahun
Di usia setahun, seluruh kemampuan dan keterampilan kinestetiknya sudah terbentuk. Untuk itu, perlu diberikan pengembangan stimulasi dengan penambahan pada bentuk, media, tingkat kesulitan, dan lainnya. Cara yang mudah adalah banyak bermain bersama anak seperti berlari, melompat, melempar, menangkap, berguling, dan lain-lain.
Anak akan lebih mudah belajar melempar daripada menangkap. Agar kemampuan anak menangkap bola atau benda bertambah, rajin-rajinlah orangtua bermain lempar-tangkap bola. Dengan cara ini pula kemampuan koordinasi mata dan tangan anak akan terlatih. Bila anak sudah mampu menangkap dan melempar, tingkat kesulitannya bisa ditambah. Contohnya, menambah jarak lempar-tangkap, mengganti bola yang lebih besar dengan yang kecil, serta arah lemparan semakin cepat.
Keterampilan motorik halus dan kasar berguna untuk kemampuan menulis, menggambar, melukis, dan keterampilan tangan lainnya. Anak juga bisa dilatih mengembangkan otot kaki, misalnya menendang bola, melompat dengan dua kaki, serta menaiki anak tangga (tentu dibantu orang dewasa)
3.Usia 3-4 tahun
Di usia ini, keterampilan dan kemampuan anak sebenarnya tidak jauh berbeda dengan anak usia 1-2 tahun. Perbedaan yang nyata hanya pada kualitasnya. Anak usia 3-4 tahun berlari lebih cepat ketimbang anak usia 1-2 tahun, lemparannya lebih kencang, dan sudah mampu menangkap dengan baik.
Kemampuan motorik kasar otot kaki anak, selain berjalan dan berlari cepat, antara lain mampu melompat dengan dua kaki, memanjat tali, menendang bola dengan kaki kanan dan kiri. Untuk motorik kasar otot lengan, anak mampu melempar bola ke berbagai arah, memanjat tali dengan tangan, mendorong kursi, dan lainnya.
Kemampuan yang melibatkan motorik halus untuk koordinasi mata-tangan, yaitu mampu memantul-mantulkan bola beberapa kali, menangkap bola dengan diameter lebih kecil, melambungkan balon, keterampilan coretan semakin baik.
Agar kemampuan dan keterampilan motorik halus serta kasar kian berkembang, anak bisa diberikan stimulasi kinestetik. seperti berjalan atau berlari zigzag, berjalan dan berlari mundur untuk mengembangkan otak kanan, melompat dengan dua kaki ke berbagai arah, menendang bola dengan kaki kanan atau kiri ke berbagai arah, melempar bola ke berbagai arah dengan bola sedang sampai kecil, melempar bola ke sasaran seperti huruf, angka, atau gambar, menangkap bola dari berbagai arah, bermain bulutangkis, mencoret-coret berbagai bentuk geometri untuk mengembangkan otak kiri dan kanan, serta menggerakkan kedua tangan dan kaki dengan memukul drum mainan.
4.Usia 5-6 tahun
Pada usia 5-6 tahun, hampir seluruh gerak kinestetiknya dapat dilakukan dengan efisien dan efektif. Gerakannya pun sudah terkoordinasi dengan baik. Namun, seperti diungkapkan Bambang, anak kelompok usia ini lebih menyukai permainan yang tidak banyak melibatkan motorik kasar. Mereka lebih menyukai permainan yang menggunakan kemampuan berpikir seperti bermain puzzle, balok, bongkar pasang mobil, serta mulai tertarik pada games di komputer maupun play station.
B.Perkembangan dan Stimulus Bahasa dan Bicara
Yang dimaksud stimulasi perkembangan kemampuan berbicara dan bahasa pada balita adalah pemberian rangsangan pada anak dari dari sejak lahir dan dilakukan setiap hari yang diberikan oleh orang sekitarnya, termasuk orangtua, pengasuh, teman sebaya dan sebagainya yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berbicara dan bahasa pada balita. Oleh karena kemampuan berbicara dan bahasa merupakan hasil dari belajar melalui peniruan yang didengar anak dari orang lain, terutama orangtuanya (Yusuf, 2005) dan menurut Taningsih (2006) masa balita adalah usia yang paling tepat untuk mengembangkan kemampuan bicara dan bahasa.
Melatih bicara anak sejak dini akan membantu kemampuan komunikasi anak. Setiap apa yang dikatakan oleh orang tua, akan tersimpan di memori otak anak dan suatu saat anak akan meniru apa yang dia perolehnya, baik itu yang diajarkan orang tua maupun oleh orang-orang disekitarnya (http://TipsKeluarga.com, 2009). Dan Felicia Irene (http://blogsome.com, 2006) mengatakan, “Jika seorang anak kehilangan kesempatan untuk belajar di usia dini, maka perkembangan otaknya pun akan berlangsung di bawah rata-rata. Kemampuan logika, bahasa, dan menyelesaikan masalahnya menjadi terbatas”. Sehingga sangat penting bagi seorang anak untuk mendapatkan stimulasi sedini mungkin yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan bicara dan bahasanya.
Dari penjelasan di atas, disimpulkan bahwa masa balita merupakan masa yang sangat penting untuk diberikan stimulasi pada kemampuan bicara dan bahasanya.
Perkembangan bahasa dan bicara pada balita normal menurut jenjang usianya adalah sebagai berikut:
Usia
Perkembangan
6 – 12 bulan
- Mulai menyebut “da-da” – Membentuk kalimat bahasa bayi dengan ritme berbeda
12 – 18 bulan
- Di usia ini si kecil mulai menghasilkan sebuah kata yang sesungguhnya, jelas dan dapat dipahami
2 Tahun
- Menguasai kurang lebih 50 kosa kata – Mulai dapat membuat kalimat tanya – Kata yang diucapkan dapat dipahami semua orang – Kata yang diucapkan dapat dipahami semua orang
3 Tahun
- Mulai membuat kalimat lengkap (subyek-predikat-objek) – Penguasaan kosa kata semakin meningkat – Sudah bisa menyebut “ng”, “tr”, “kr” dan yang lebih sulit
Metode Stimulasi Kemampuan Bicara dan Bahasa pada Balita
Menurut Dr. Miriam Stopard, Depkes RI, Laura Dyer dan Benny Ciptaraja, dapat disimpulkan bahwa metode stimulasi kemampuan bicara dan bahasa balita sebagai berikut :
1.Fase Pre-Linguistik (0-12 bulan)
a.Melatih organ bicara
1)Menghisap, menjilat, tertawa, menyemburkan gelembung dan mengunyah.
2)Latih pengucapan /p/, /b/, /m/ serta huruf vokal, seperti /baba/, /bibi/, /mimi/, /papa/, /mama/. Ucapkan dengan jelas, tidak terburu-buru, serta perlihatkan gerak lidah dan bibir dengan jelas.
b.Mengajak berbicara
1)Jangan membiarkan bayi ketika menangis.
2)Selalu mengajak berbicara sesering mungkin setiap ada kesempatan mengenai aktivitas yang sedang dilakukan, benda-benda sekitar dan sebagainya, walaupun bayi belum bisa mengucapkan, tetapi pemahaman bayi akan bertambah.
3)Tanggapi segala bentuk suara yang dikeluarkan bayi saat diajak berbicara.
4)Ketika anak mulai mengucapkan kata-kata yang belum jelas, ikuti kata-katanya dengan mengucapkan yang benar.
c.Mengenalkan berbagai suara
1)Merangsang bayi untuk mencari sumber suara dengan membunyikan lonceng di sampingnya.
2)Memperdengarkan berbagai suara seperti musik, orang bicara, suara dari kerincingan, mainan yang dipencet atau bel.
3)Menyanyikan lagu dan bacakan sajak anak secara berulang, pengulangan membantunya belajar.
d.Membacakan buku
1)Perlihatkan buku bergambar hanya berisi gambar-gambar berwarna untuk menarik perhatian bayi saat ia berusia 6 bulan.
2)Tunjuk sebuah gambar dan sebutkan namanya ketika bayi melihatnya, makin sering mendengar nama suatu objek, makin besar akan dapat mengucapkannya.
2.Fase Holofrase (12-18 bulan)
a.Melatih organ bicara
1)Awal tahun pertama, latih pengucapan seperti /ua/, /ui/, /oe/, atau /wa/, /au/, /ai/, /ae/, /ao/, /ha/, /hi/, /ho/, /hai/, /bai/, /mau/, /bau/ dan sebagainya.
2)Sekitar 15 bulan, latih pengucapan /n/, /d/ dan /t/, seperti /nana/, /nene/, /tata/, /dudu/, /dada/, /dede/ dan sebagainya
3)Tunjukkan posisi lidah jika pengucapan tidak juga sempurna.
b.Mengajak berbicara
1)Doronglah untuk menunjuk sesuatu dan menyebut namanya.
2)Ajari kata benda, kata sifat dan kata kerja dengan menyebut nama benda yang sedang diperhatikannya karena lebih mudah memahami kata kerja lebih awal dibandingkan mengucapkannya.
3)Ajak bermain sambil berbicara dengan menggunakan boneka dan telepon-teleponan.
c.Mengenalkan berbagai suara
1)Mengenalkan berbagai suara, seperti suara binatang, alat musik atau kendaraan kemudian rangsang anak untuk mengikuti suara-suara tersebut.
2)Ajari sajak dan lagu mengenai anggota tubuh, seperti “Kepala, Pundak, Lutut, Kaki”. Nyanyikan lagu itu secara perlahan dan berikan waktu bagi anak untuk menunjukkan bagian tubuh yang dimaksud.
d.Membacakan buku
1)Rangsang anak untuk mengulang kembali nama gambar yang disebutkan/ditunjukkan.
2)Membacakan buku cerita bergambar pada anak sesering mungkin dan mengulang cerita yang sama dalam beberapa kali.
3)Perpanjang rentang perhatian anak dengan memberikan makanan ringan dan berikan anak benda-benda, seperti boneka, mainan binatang, yang berhubungan cerita untuk dipegang.
3.Fase Kalimat dengan 2 Kata (18-24 bulan)
a.Melatih organ bicara
1)Latih pengucapan /k/, seperti /aku/, /kake/, /kuku/, /buku/, /paku/, /bisu/, /kakak/ dan sebagainya.
2)Jika pengucapan /k/ sudah fasih, latih pengucapan /g/, seperti /tiga/, /tigabelas/, /tigapuluh/, /tigapuluh tiga/ dan latihan bisa digabung dengan bunyi nasal /ng/, misalnya /nangis/, /anjing/, /kucing/, /gong/, /gang/, /agung/, /es agogo/ dan sebagainya.
b.Mengajak berbicara
1)Kenalkan anak pada perbendaharaan kata yang menerangkan sifat atau kualitas (anak baik, nakal, pintar, dll), keadaan/peristiwa yang terjadi (sekarang, besok, kemarin, dll) serta kata-kata yang menunjukkan tempat (di sini, di atas, di bawah dll).
2)Ajari anak konsep berhitung hingga angka dua dengan memperlihatkan pada anak bagaimana cara menghitung mainanya.
3)Rangsang anak agar bercerita tentang apa yang dilihatnya/dialaminya.
4)Hindari untuk meminta anak menyebutkan kata-kata tertentu atau suatu kalimat untuk pamer kepada keluarga atau teman.
c.Mengenalkan berbagai suara
1)Membuat suara-suara, seperti alat musik, rangsang anak agar menirukan suara tersebut.
2)Perlihatkan pada anak bagaimana bernyanyi, bertepuk tangan dan mengikuti nada ketika mendengarkan music.
d.Membacakan buku
1)Ketika melihat buku bersama, mungkin akan kembali ke halaman sebelumnya dan menyebutkan nama binatang kesayangannya, maka ikuti topik pembicaraannya.
2)Membacakan buku cerita setiap hari dan rangsang anak untuk menceritakan gambar yang ada di buku cerita.
3)Kenalkan mengenai konsep warna yang terdapat dalam buku.
4.Usia 2-3 Tahun
a.Melatih organ bicara
1)Latih pengucapan /l/, seperti /lama/, /lalu/, /bulu/, /palu/, /malu/, /telah/, /lain/, /lupa/, /lelah/, /bolu/ dan sebagainya.
2)Waktu yang tepat untuk melatih bunyi lateral adalah ketika anak berkata “Pelmen”, yang dimaksudnya adalah “Permen”.
b.Mengajak berbicara
1)Ajari anak agar dapat menyebutkan nama lengkapnya.
2)mengenalkan nama-nama benda-benda disekitarnya dan minta anak untuk menyebutkan kembali di lain waktu.
3)Bicarakan tentang kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan pada hari itu untuk meningkatkan kemampuan mengingat anak.
c.Mengenalkan berbagai suara
Perkenalkan beberapa bunyi alat musik dan bicarakan tentang perbedaan bunyi yang dihasilkannya.
d.Membacakan buku
1)Ceritakan yang lebih kompleks secara berulang agar anak dapat mengingatnya.
2)Rangsang anak untuk menceritakan kembali buku yang pernah dibacakan.
3)Rangsang anak untuk mencocokkan warna dan menyebutkan beberapa warna pokok.
e.Mengenalkan pada teman seusianya
Kenalkan dengan anak-anak seusianya dan dilibatkan pada lingkungan sosial yang bisa memfasilitasi kemampuan sosial dan berkomunikasinya, seperti PAUD, BKB, play group, taman bermain, dan sebagainya.
f.Mengenalkan acara televise
1)Kenalkan balita pada acara televisi yang dapat meningkatkan kemampuan bicara dan bahasanya, seperti Sesame Street yang selalu mengenalkan konsep bahasa.
2)Waktu menonton tidak melebihi 2 jam setiap harinya.
3)Selalu mendampingi anak ketika menonton.
5.Usia 3-4 Tahun
a.Melatih organ bicara
1)Latih pengucapan /s/, seperti /pipis/, /pus/, /bis/, /pas/, /mas/, /es/ dan sebagainya.
2)Jika pengucapan /s/, sudah fasih, latih pengucapan /c/, seperti /cici/, /cucu/, /caca/ dan sebagainya.
b.Mengajak berbicara
1)Rangsang anak untuk menceritakan tentang dirinya dan rangsang ia agar menggunakan kalimat lebih dari 2 kata.
2)Mengajaknya mendiskusikan tentang sesuatu hal yang sangat sederhana.
3)Untuk meningkatkan kemampuannya dalam memahami kalimat, berbicara pada anak dengan kalimat yang panjang dan kompleks.
c.Mengenalkan berbagai suara
1)Bermain sambil bersajak menyenangkan untuk anak yang sudah memahami dan mampu mengubah lirik lagu atau kata-kata sajak.
2)Perkenalkan anak pada huruf alfabet dengan menggunakan nyanyian.
d.Membacakan buku
1)Berikan hadiah sikap baik anak dengan buku daripada permen atau mainan.
2)Membacakan buku setiap hari.
3)Rangsang anak untuk menceritakan kembali buku yang pernah dibacakan.
e.Permainan sosial
1)Libatkan dalam permainan imajinasi, seperti memanfaatkan peralatan rumah tangga biasa, lalu dorong ia untuk membayangkan segala macam benda yang dapat dibuat dengan barang-barang tersebut.
2)Ajarkan anak untuk bermain peran, dengan cara memberikan beberapa pakaian tua kepada anak dan biarkan ia bermain dengan mencoba mengenakannya dan bergaya.
6.Usia 4-5 Tahun
a.Melatih organ bicara
Latih pengucapan /r/, seperti /beri/, /kue mari/, /roda/, /permen/ dan sebagainya. Latihan diberikan pada awal tahun keempat bahkan hingga usia 5 tahun.
b.Mengajak berbicara
1)Libatkan anak dalam berbagai aktivitas dan ajak berdiskusi mengenai kegiatan tersebut serta rangsang agar anak menggunakan kalimat yang lebih kompleks.
2)Mengenalkan angka hingga 10.
3)Rangsang agar anak menceritakan tentang masa kecilnya atau kejadian yang pernah dialaminya di masa lalu.
4)Rangsang anak untuk bercerita tentang pemikiran imajinasinya.
c.Membacakan buku
1)Membacakannya setiap hari dan rangsang anak untuk melanjutkan isi cerita dengan imajinasinya.
2)Rangsang anak untuk menceritakan kembali buku yang pernah dibacakan.
d.Permainan social
1)Biarkan anak melakukan permainan kelompok bersama teman sebayanya.
2)Di usia ini, anak sudah siap menghadapi pengalaman baru ketika mereka mulai bersekolah.
Dalam menerapkan stimulus, baik stimulus motorik kasar dan halus maupun stimulus bahasa dan bicara, perlu diperhatikan Prinsip Stimulasi Perkembangan yaitu:
a.Dilandasi rasa cinta dan kasih sayang;
b.Orang-orang terdekat dipakai sebagai model;
c.Dilakukan dengan cara bermain, bervariasi, menyenangkan, tanpa paksaan dan hukuman;
d.Dilakukan setiap hari, secara bertahap dan berkelanjutan yang mencakup 4 aspek kemampuan dasar;
e.Dilakukan sesuai dengan kelompok umur anak;
f.Gunakan alat bantu yang sederhana, aman dan mudah didapat;
g.Beri kesempatan yang sama pada anak perempuan dan laki-laki;
h.Selalu beri pujian, bila perlu beri hadiah atas keberhasilannya.
Orang tua menjadi kunci penting dalam pertumbuhan dan perkembangan sang buah hati di masa depan. Jangan biarkan golden period sang buah hati terlewatkan begitu saja. Optimalkan dan manfaatkan sebaik-baiknya.
BAB III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Usia paling kritis anak adalah sampai dengan usia anak lima tahun. Usia emas atau Golden Age berada pada masa paling kritis yaitu usia 0 sampai 2 tahun, karena 80% pertumbuhan otak terjadi pada masa usia emas tersebut. Pada tahap ini anak harus diberikan intervensi-intervensi yang tepat agar otak anak bisa berkembang dengan optimal. Intervensi yang diberikan bisa dalam bentuk stimulasi-stimulasi. Stimulasi yang diberikan harus merangsang 4 aspek kemampuan dasar, yaitu: Kemampuan Gerak Kasar (GK) ; Kemampuan Gerak Halus (GH) ; Kemampuan berbicara dan bahasa ; dan Kemampuan bersosialisasi dan kemandirian. Dalam melakukan stimulasi sebaiknya harus memperhatikan prinsip stimulasi perkembangan.
B.Saran
Orang tua seharusnya lebih memperhatikan perkembangan anaknya saat masih dalam usia kritis, terlebih lagi saat dalam usia emas atau golden age. Orang tua bertanggung jawab atas perkembangan anaknya pada masa yang akan datang. Oleh karena itu, orang tua harus berhati-hati dalam mendidik anaknya serta dalam melakukan intervensi harus benar-benar tepat. Jika stimulasi yang diberikan tidak tepat maka akan sangat sulit atau bahkan tidak bisa untuk memperbaiki pengaruh stimulasi tersebut pada usia selanjutnya. Untuk itu manfaatkan masa usia kritis anak atau golden age, agar anak bisa berkembang seoptimal mungkin kearah yang positif.
DAFTAR PUSTAKA
Hardiyanto, Radix. dr. 2010. Pertumbuhan dan Perkembangan Balita dan APRAS. Dipaparkan saat Sosialisasi DDTK Kepada Para Kader Puskesmas di Kota Surabaya
About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s